banner

Alasan Kenapa Seorang Perempuan Memutuskan Menjadi Wanita Malam

Wanita Malam yang Hot

Profesi pelacur memang disebut-sebut sebagai profesi tertua di dunia ini, apalagi di zaman sekarang dengan adanya Kencan Online. Dan mesti profesi yang satu ini marak dengan stigma negatif, toh pelaku dan peminat layanan dari profesi yang satu ini tetap laris manis di pasaran mulai dari level prostitusi jalanan hingga papan atas yang melibatkan sejumlah artis dan selebritas. Pertanyaannya, mengapa banyak wanita yang sudi berprofesi sebagai wanita malam? Apakah mereka bersedia menjual diri semata-mata karena uang atau demi variabel lainnya?

Eunike Sri Tyas Suci, psikolog sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, seperti yang dikutip dari situs Kumparan, pernah melakukan penelitian di lokasi Resosialisasi Wanita Tuna Susila (WTS) di Yogyakarta yang kini telah berubah menjadi Terminal Penumpang Giwangan Yogyakarta. Karena saat itu letaknya berdekatan dengan Kampung Sanggrahan, Kotagede, tempat resosialisasi ini lebih populer dengan sebutan Resos Sanggrahan. Di Resos Sanggrahan itu Eunike mewawancarai sejumlah wania malam PSK untuk bahan penelitian tesis S2-nya di Brown University di Amerika Serikat. Dari situ Eunike mengetahui ada kondisi psikososial tertentu pada diri mereka.

“Seseorang memutuskan menjadi pekerja seks komersial (PSK) umumnya atas keputusan sadar dan rasional untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,” kata perempuan yang telah lulus S2 dan S3 dari Brown University itu, di mana menurut hasil wawancara Eunike dengan beberapa PSK di Resos Sanggrahan pada saat itu, rata-rata dari mereka memiliki tujuan finansial. “Jadi misalnya ada yang dari Jawa Timur waktu itu datang ke situ, dia sudah punya salon tetapi dia tidak punya steamer, sehingga datang ke lokalisasi untuk menjual diri, cari modal untuk kemudian mengembangkan salonnya. Jadi itu sangat rasional. Kemudian ada juga yang untuk membangun rumah,” paparnya.

Namun ada juga satu kasus yang pernah mengejutkan Eunike. Ya, ia pernah menemukan wanita malam yang ternyata setiap hari datang ke lokasi resosialisasi itu dengan diantar oleh suaminya. “Jadi dia diantarkan oleh suaminya naik sepeda motor untuk menerima pelanggan dan agar segera hamil, karena dengan suaminya ia tidak kunjung hamil," jelasnya. Menurut Eunike, kemungkinan si suami ini merasa bahwa fakta bahwa ia tidak bisa memiliki anak, bisa menjadi aib unntuk dirinya sendiri karena kejantanannya dianggap meragukan. “Karena itu bagi dia, lebih baik istrinya hamil dengan laki-laki lain yang tidak perlu diketahui siapa laki-laki itu, yang penting istrinya hamil dan itu menunjukkan kepada publik bahwa dia adalah suami yang normal.”

Eunike yang kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia memberi catatan, data yang ia dapat ini adalah berdasarkan hasil penelitiannya di Resos Sanggrahan saja. “Itu untuk di Yogya ya. Untuk kondisi di tempat lain mungkin beda lagi, misalnya di Dolly, Kramat Tunggak, mungkin beda lagi,” tekannya.

Prostitusi online

Adapun untuk maraknya prostitusi online terutama di kota urban yang bahkan melibatkan seorang artis ibu kota sebagai pelakuknya, Eunike punya pendapat alasan lain. Menurutnya, keinginan untuk mendapatkan uang untuk tampil glamour bisa jadi alasan penting bagi sebagian perempuan muda untuk mejadi wanita malam di kota-kota urban. “Nah di dalam kota urban, kecenderungan yang diasosiasikan adalah karena glamour kehidupan, di Jakarta khususnya, itu membuat orang-orang dari daerah atau yang secara finansial itu tidak terlalu kuat, tetapi berada dalam lingkungan pergaulan yang memamerkan seluruh glamoritas itu, dia tidak bisa menahan diri,” demikian Eunike memberikan teorinya. Karena tidak bisa menahan diri di dalam pergaulan glamour itulah, maka sebagian perempuan muda “mencari upaya untuk bisa tampil glamour dengan mencari customer yang punya kantong tebal.”

Eunike meyakini hal ini bisa menjadi penyebab adanya artis yang kemudian menjadi PSK dalam praktik prostitusi online. “Artis itu secara finansial tidak selalu kencang, tidak selalu kuat. Ada artis yang harus selalu tampil cantik dan itu biayanya besar sekali untuk ke salon, untuk diet, untuk bajunya, untuk makeup-nya, dan segala bulu mata itu tuh biayanya tidak sedikit. Dan karena dia bukan artis yang laris ya, itu income-nya kan tidak rutin toh, tergantung kalau ada pekerjaan syuting atau apa segala macam itu,” tutur Eunike yang mengaku tahu kehidupan beberapa artis.

Dengan kondisi finansial terbatas tapi ingin tetap tampil glamour dalam pergaulan, menurut Eunike, maka kemudian sangat mungkin ada artis yang akan melakukan banyak hal demi mendapatkan uang, termasuk menjual tubuhnya. Eunike yang pernah datang ke tempat hiburan di Sawah Besar, Jakarta, merasa terkejut saat melihat banyak perempuan muda yang bekerja sebagai wanita malam. Pasalnya kebanyakan wanita malam yang ia saksikan, masih berusia belia sementara pelanggan mereka kebanyakan pria separuh baya.

Menurut Eunike, remaja-remaja perempuan itu memutuskan bekerja seperti itu karena mereka terjebak dalam gaya pergaulan yang salah. Mereka perlu mengikuti gaya pergaulan teman-temannya tapi mereka tidak mempunyai uang sehingga memutuskan untuk berprofesi sebagai wanita malam.

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam