banner

Algoritma Kesuksesan Mendapatkan Teman Kencan Online

Algoritma kesuksesan mendapat teman pada aplikasi kencan online Tinder

Hanya dalam satu malam, Matt Taylor berhasil melakukan pencarian teman kencan di aplikasi kencan online Tinder, secara menyeluruh. Ia menjalankan skrip di komputernya yang secara otomatis menggeser atau swipe ke kanan setiap profil yang sesuai dengan preferensinya. Pada pagi keesokan harinya, ia telah menyapu 25.000 profil. Dan dari 25.000 pengguna aplikasi kencan online Tinder, sembilan orang cocok dengannya, dan salah satu dari mereka, Cherie, setuju untuk berkencan. Dan seperti dilansir dari BBC, mereka telah menikah dengan bahagia.

Bagi Charles Darwin menentukan apakah ia akan menikah atau tidak bukanlah perkara sepele. Ilmuan yang sohor atas karyanya berjudul “On the Origin of Species” itu, sampai harus membuat perhitungan untuk mengambil keputusan menikah atau tidak. Darwin memasukkan beberapa
daftar keuntungan-keuntungan yang didapat jika ia menikah lalu diadu dengan keuntungan-keuntungan seandainya ia memilih sendiri–ya ia menggunakan metode algoritma saat hendak mencari pasangan hidup.

Selepas membuat hitung-hitungan, Darwin akhirnya menemukan bahwa menikah memiliki lebih banyak keuntungan. Pada 29 Januari 1839, Darwin akhirnya mempersunting Emma Wedgwood, sepupu sekaligus pujaan hatinya.

Secara konsep, perhitungan berusia 180 tahun yang digagas Darwin itu masih dimanfaatkan hingga kini. Adu mana yang lebih untung, mencocok-cocokkan kesamaan dan perbedaan, dan tindakan sejenis, jadi bagian tak terpisahkan dalam penentuan pasangan hidup banyak orang. Kini, melalui bantuan teknologi pekerjaan ini jadi mudah dilakukan. Layanan aplikasi kencan online seperti OkCupid, Match, hingga Tinder, ialah contoh aplikasi atau layanan teknologi yang memanfaatkan konsep tersebut.

Selain Tinder, unit bisnis lain dari Match Group yang cukup memiliki banyak pengguna adalah Okcupid. Okcupid sedikit berbeda dengan Tinder, di mana situs kencan online tersebut menggunakan algoritma, rumus, dan matematika. Cara kerjanya, server Okcupid akan menggunakan berbagai aktivitas pengguna dalam situs mereka untuk menentukan kecocokan dengan pengguna lainnya.

Christian Rudder, salah seorang pendiri OkCupid, mengungkap bahwa algoritma di balik perjodohan yang dilakukan OkCupid disebutnya “sangat sederhana”.

“(Algoritma OKCupid) dibentuk oleh beberapa pertambahan, perkalian, dan sedikit akar pangkat dua,” kata Rudder mencoba merahasiakan algoritma sesungguhnya OkCupid. Redder mengungkapkan secara tersirat bahwa algoritma OkCupid tidak akan berarti banyak tanpa ada data yang mendukung kerja algoritma menentukan siapa cocok dengan siapa. Data yang dimaksud Redder, sebagaimana dilakukan Tarr, ialah pertanyaan atau kuis. Pertanyaan atau kuis tersebut dianggap sebagai cara ampuh mengetahui siapa sosok si pengguna yang ingin dijodohkan.

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam