banner

Aplikasi Kencan Online Paktor Tercipta Karena Patah Hati

Wanita cantik yang ditemukan di aplikasi kencan online Paktor

Siapa yang belum mendengar atau menggunakan aplikasi kencan online? Ya, Aplikasi kencan online saat ini memang sedang marak dan menarik banyak pengguna. Salah satunya adalah aplikasi Paktor. Dimana aplikasi kencan online yang satu ini mampu menghubungkan Anda yang ingin mencari teman untuk berkencan. Tak dinyana, pendiri Paktor membuat aplikasi kencan online justru karena berdasarkan pengalaman pribadinya.

Beberapa tahun yang lalu, aplikasi kencan online sebenarnya tidak begitu diminati. Ini karena desain yang dianggap tidak menarik, bahkan menyeramkan dan masih jarang penggunanya. Pada 2015, aplikasi kencan online mulai menjadi tren, beberapa aplikasi online bermunculan dan langsung banyak peminatnya. Namun, di Asia, lantaran budaya yang relatif konservatif,aplikasi kencan online tak langsung populer karena karakter anak muda di Asia yang masih cenderung malu-malu. Namun melihat bahwa penggunaan aplikasi kencan online di Asia cenderung meningkat, ini artinya soal asmara, muda-mudi di Asia pun tak kalah galaunya!

Sejarah Paktor

Tampilan aplikasi kencan online Paktor

Paktor diluncurkan pada Juni 2013. Sejak itu, Paktor, yang paling dikenal sebagai saingan Tinder di Asia, telah diluncurkan di 12 negara, termasuk Jepang, Taiwan, Singapura, Indonesia, dan Hong Kong. Aplikasi kencan online Pakto sendiri mendapat dana dari investor seperti afiliasi Yahoo Jepang YJ Capital dan Vertex Ventures Singapura.

Para pendiri Paktor adalah teman sekelas saat duduk di sekolah dasar, yakni Joseph Phua dan Ng Jing Shen. Setelah menyelesaikan gelar MBA dari Booth School of Business Universitas Chicago dan putus dengan pacarnya yang sudah menjalin hubungan selama delapan tahun, Joseph kembali ke Asia untuk memulai Paktor. Dirinya berniat mendirikan Paktor karena merasa patah hati ditinggal sang kekasih. Kemudian, ia pun menghubungi Jing Shen, lulusan University of Michigan, untuk meminta bantuan, yang pada waktu itu bekerja dengan Amazon sebagai insinyur perangkat lunak dan merupakan bagian dari tim yang merancang ulang salah satu layanan komputasi cloud pertama di dunia.

Tak dipungkiri, budaya menjadi salah satu tantangan yang terbesar di ranah Asia. Jing Shen setuju bahwa berkencan adalah “sangat sensitif secara budaya”. Apalagi di Asia, menurut Jing Zhen, ada begitu banyak campuran budaya yang berbeda-beda dan tidak semua negara di Asia adalah sama. “Ini membantu kita menghormati persamaan dan perbedaan di antara kedua negara.”

Konteks lokal dan sejarah kencan di masing-masing negara mendorong cara para pendiri telah mengembangkan aplikasi untuk setiap pasar. “Paktor”, misalnya, adalah istilah dalam bahasa Kanton untuk “berkencan” yang mungkin paling cocok dengan pengguna di Singapura, Taiwan, dan Malaysia tetapi di Korea, karena mereka tidak berbicara dialek Kanton, Paktor berganti nama menjadi Swipe.

Terlepas dari cita rasa lokal, sulit untuk mengabaikan kesamaan antara Paktor dan Tinder, mulai dari swipe (geser ke kanan untuk suka dan geser ke kiri untuk lewat). Jing Shen, berpendapat bahwa Paktor memiliki DNA sendiri, guna membina koneksi pribadi dan bermakna melalui misi satu pikiran untuk menghubungkan orang-orang di Asia melalui platform yang didukung teknologi. “Kami memastikan tingkat lokalisasi yang tinggi dalam pengalaman pengguna untuk memastikan bahwa nuansa kencan yang spesifik budaya dapat ditangkap dengan baik,” ucapnya.

Terlebih lagi, untuk mengatasi masalah akun palsu, aplikasi kencan online Paktor menggunakan kombinasi crowdsourcing, pembelajaran mesin, dan ulasan manual. “Kami mengizinkan pengguna untuk melaporkan pengguna lain yang palsu atau spam. Akun-akun yang menerima banyak keluhan secara otomatis akan diblokir. Selain itu, kami telah mengembangkan dan terus mengembangkan algoritme berdasarkan perilaku spammer di masa lalu untuk secara otomatis mendeteksi dan melarang aktor jahat,” kata teknisi berusia 34 tahun itu.

Saat ini, Paktor memiliki 15 juta pengguna, sebagian besar dalam kelompok usia 26-40, dengan sebagian besar di Taiwan (4,8 juta), Singapura (700.000), Korea (lima juta) dan Malaysia (1,5 juta). Di Indonesia, sepertinya aplikasi kencan online masih berjaya.

Link Paktor : Paktor

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam