banner

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby

Sugar Daddy dan Sugar Baby sedang bermesraan

Banyak orang menganggap fenomena sugar daddy sebagai sesuatu hal yang negatif. Di mana lelaki kaya yang umumnya berusia lebih dari 40 tahun dan biasanya sudah memiliki istri, mencari kesenangan seksual dari para gadis-gadis muda dengan imbalan fasilitas kehidupan seperti akomodasi tempat tinggal, kendaraan, uang dan aneka hadia mewah lainnya. Tapi para gadis muda yang lazim disebut dengan sugar baby ini bukan wanita malam atau pekerja seks loh. Karena selama mereka masih menikmati fasilitas dengan sugar daddy mereka yang harus diimbangi dengan kompensasi seksual layaknya hubungan kekasih mereka tidak boleh berhubungan dengan pria lain.

Jika merujuk pada kamus Merriam-Webster, sejatinya sugar daddy dapat diartikan sebagai sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda yang umunnya berusia belasan hingga 20-an tahun.

Sugar daddy dan sugar baby

Business Insider menjelaskan, hubungan antara sugar daddy dan sugar baby sering kali disebut dengan sugar dating. Yaitu hubungan di mana wanita yang lebih muda berpasangan dengan pria yang lebih tua agar bisa memenuhi kebutuhannya secara finansial, dengan imbalan wanita tersebut bersedia menjadi pasangan seksual sang pria. Perlu digaris bawahi juga, hubungan yang terjalin antara sugar daddy dan sugar baby bukan didasari oleh cinta melainkan kebutuhan. Oleh karenanya, mereka tidak merasa dirugikan jika dimanfaatkan secara finansial oleh sugar baby-nya, karena mereka menikmati komitmen seperti itu, atau kita bisa sebut sebagai win-win solution. Bahkan sebelum menjalin hubungan, biasanya mereka akan menulis perjanjian yang disesuaikan dengan kondisi kedua belah pihak. Hmmm… mirip dengan fenomena kawin kontrak, bukan?

Dan belakangan bisnis sugar daddy telah diubah menjadi lahan bisnis oleh seorang lulusan MIT, bernama Brandon Wade. Pada 2006, ia meluncurkan Seeking Arrangement, situs kencan khusus para pria tua kaya yang mencari sugar baby, atau sebaliknya, wanita muda yang mencari pria lebih tua. Pada awalnya, situs tersebut dibuat untuk membantu mahasiswa MIT dan eksekutif perusahaan teknologi untuk mendapatkan relasi cinta yang memuaskan–dalam artian seksual tentunya. Situs ini juga memprioritaskan jumlah pendapatan yang dihasilkan penggunanya. Anggota Seeking Arrangement berpendapatan tahunan rata-rata $250 ribu (Rp3 miliar) serta kekayaan bersih senilai $1,5 juta (Rp21 miliar). Sejauh ini, pengguna Seeking Arrangement mencapai lebih dari tiga juta orang di Amerika Serikat dan Eropa. Di Asia sendiri, terutama di kawasan Cina dan Hong Kong, anggotanya cukup banyak, yaitu 101.683 pengguna. Dari angka tersebut, 44% berasal dari perguruan tinggi.

Sebagian besar orang berpikir negatif tentang sugar daddy dan sugar baby karena adanya seks di luar nikah di antara mereka. Bahkan, tidak sedikit orang yang menyamakan sugar baby dengan PSK (Pekerja Seks Komersial), yang mendapatkan uang dengan seks. Faktanya, ada sugar baby yang benar-benar memanfaatkan uang dari sugar daddy untuk pendidikan. Ada yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan dia dan keluarganya. Lalu, ada juga sugar baby yang memang berperan sebagai pacar sugar daddy, namun tidak melibatkan hubungan seksual.

“Dalam hubungan bersama sugar daddy, orang yang lebih tua akan memberikan pasangannya yang lebih muda uang untuk membayar tagihan-tagihan, sewa rumah, membeli baju/perlengkapan kecantikan pribadi dan sebagai gantinya dia akan ditemani dalam level hubungan apapun yang telah mereka sepakati,” tulis David J. Neal dari Miami Herald.

Meski gaya hidup para sugar baby dinilai hedon hanya dengan mengandalkan daya tarik seksual, tidak semua nasib sugar baby berakhir menyenangkan. Beberapa di antaranya mungkin mampu membiayai perkuliahan dan mendapatkan barang-barang kelas atas. Namun, tidak sedikit juga yang berakhir mengenaskan; disiksa secara fisik hingga diancam dibunuh. Sejak awal, konsep relasi sugar daddy dan sugar baby memang kontroversial. Selain lekat dengan anggapan prostitusi dan perdagangan perempuan, fenomena ini juga kerap membuat perempuan jadi korban kekerasan. Di lain sisi, relasi antara dua pihak tersebut turut menghadirkan risiko Infeksi Menular Seksual (IMS) dan kehamilan yang tidak diinginkan akibat pola seksual yang tidak sehat. Meski demikian, masih ada sugar baby yang beranggapan bahwa apa yang dilakukannya aman dan tidak membahayakan.

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam