banner

Kisah Cinta dari Kencan Online

Kisah cinta dari aplikasi kencan online yang berujung di dunia nyata

Sudah dua tahun belakangan, Nania merasa resah karena terus menyandang status jomblo dan bertekad untuk mencari pasangan pada tahun ini meski pandemi COVID19 masih di depan mata. Apalagi usianya sudah menginjak usia 26 tahun dan sudah mulai jengah dengan pertanyaan ‘kapan kawin?’. Pengusaha kue dan pastry ini akhirnya memutuskan mengunduh aplikasi kencan online Tinder untuk mencari teman kencan dan syukur-syukur berjodoh sesuai saran teman-temannya pada akhir tahun lalu.

Beberapa pekan mencoba aplikasi kencan online Tinder, Nania rajin swipe kanan, swipe kiri untuk memilah-milah cowok yang masuk dalam kriterianya. Ada sekitar 30 cowok yang match dan berlanjut ke ‘sesi’ chatting. Aplikasi kencan online Tinder bagaikan katalog yang menampilkan foto dan deskripsi singkat orang-orang dalam jarak tertentu. Pengguna tinggal swipe kanan jika suka dan swipe kiri jika tak suka. Setelah keduanya saling swipe kanan atau match, baru mereka bisa berinteraksi lewat fitur chat.

“Ada belasan yang match, tapi ada satu yang enak diajak ngobrol, nyambung, dan seru. Sampai memutuskan untuk akhirnya kopdar,” terang Nania yang akhirnya bertemu dengan Rino, desainer grafis dari sebuah perusahaan swasta. Setelah kopdar mereka bertukar nomor ponsel dan saling memfollow media sosial.

Dari tujuan awal mencari teman kencan online dan membunuh sepi, Nania melanjutkan hubungannya dengan Rino. Mereka bertemu setiap akhir pekan, hingga akhirnya di pekan keempat memutuskan untuk berpacaran. Menurut wanita lulusan S1 Public Relation ini, ia memang punya ‘SOP’ sendiri untuk melakukan kencan online. Berawal dari berkenalan di aplikasi kencan online, lanjut kopdar, baru tukar nomor ponsel dan saling follow. “Menurut aku, stepnya memang begitu. Aku enggak mau kasih nomor (ponsel) aku sebelum ketemu orangnya dan yakin dulu dia layak enggak aku kasih nomor aku,” ucapnya.

Usai resmi menyandang status sebagai kekasih, Nania dan Rino langsung menghapus Tinder dari ponselnya karena sudah merasa saling cocok. Mereka pun sudah merencanakan melanjutkan hubungan ke level yang lebih tinggi.

Aplikasi kencan online Tinder booming pada era 2013-2018, setelahnya, aplikasi kencan online yang diluncurkan pada 2012 silam lebih banyak digunakan untuk mencari teman kencan kasual atau sekadar hookup. Ada yang menyebutnya one night stand atau cinta satu malam. Fitur unggulan yang berupa pencarian berbasis jarak lewat GPS ponsel ini memungkinkan kencan ‘kilat’ dan mencari teman kencan yang terdekat. Ketika pertama diluncurkan pada 2012 oleh sekelompok mahasiswa University of Southern California, aplikasi kencan online Tinder memang dibuat untuk membantu orang yang ‘iseng’ mencari teman kencan yang bisa diajak hookup dengan cepat.

Bagi Rey (bukan nama sebenarnya) yang sudah dua tahun lebih mencari teman kencan lewat Tagged hingga Tinder, awalnya mengunduh aplikasi kencan online ini untuk iseng belaka. Namun kini, Rey berpaling ke Tinder untuk mencari teman kencan yang sekaligus bisa diajak hookup.

Chat sama cewek udah ratusan ya. Kalau ketemu udah puluhan dari berbagai daerah. Bandung, Jakarta, Jogja. Buat iseng-iseng berhadiah lah,” ujarnya sambil tertawa.

Pria asal Jakarta ini menilai dulu aplikasi kencan online Tinder pure dipakai untuk mencari pacar. Tapi belakangan, banyak juga pria dan wanita yang menjajakan “cinta” alias masih menjadi pekerja seks online

“Waktu (tahun) 2018-an sih masih 'bener’ sih, tapi kesini-kesini ada yang ‘jualan’, karena ada juga yang emang nyari. Pernah juga dapat BO (booking out) dari Tinder,” jelasnya yang tak pernah memakai nama asli di akun kencan online miliknya.

Menurut pria 31 tahun ini hanya 30 persen kemungkinan mendapat pacar beneran dan serius. “Kalau menurut gue sih kemungkinan cuma 30 persen ya dapet jodoh di Tinder” ucapnya.

Popularitas situs dan aplikasi kencan online memang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di antara para lajang yang putus asa mencari cinta. Ini membuat nirlaba Better Business Bureau (BBB) telah mengeluarkan peringatan terhadap situs-situs kencan macam Tinder, Tagged, OkCupid, dan lainnya. BBB mendesak pengguna ‘melek’ menggunakan aplikasi kencan online dengan aman dan tetap waspada ketika berinteraksi dengan orang asing secara online.

Aplikasi kencan online memang sangat membantu para introvert, mereka yang takut ditolak, dan mereka yang selalu sibuk dan aktif. Sayangnya, dengan kemudahan aplikasi ini juga muncul risiko ditipu, pencurian identitas, penguntit, pelecehan seksual, penyalahgunaan, dan penipuan lainnya.

Menurut profesor keamanan cyber dari Horry Georgetown Technical College, Stan Greenawalt, mengungkapkan indikasi aplikasi kencan online mengumpulkan informasi pengguna dan membagikan kepada pihak ketiga sebagai sumber penghasilan. “Meskipun aplikasinya mungkin gratis, mereka mungkin menggunakan data yang mereka kumpulkan dan membagikannya kepada pihak ketiga,” jelasnya seperti dikutip dari Voiceonline. “Mereka mungkin menggunakannya untuk menggaet iklan, tetapi mereka dapat menghasilkan banyak uang dengan mengambil data tentang diri Anda dan membagikannya,” tambahnya.

Tahun lalu, BBB menerima setidaknya 1.100 keluhan dari pengguna aplikasi kencan online. Mayoritas berupa tagihan langganan, layanan pelanggan yang buruk, masalah pengembalian uang, dan praktik periklanan dan penjualan data pribadi.

Greenawalt menyarankan pelanggan aplikasi kencan online untuk membawa teman saat kopdar dan menghindari tempat-tempat privat. “Penting juga untuk memberitahu keluarga atau kerabat tentang lokasi kopdar dan sampai berapa lama kamu ketemuan,” pungkasnya.

Link Tinder

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam