banner

Kisah Lady Escort Belia di Karaoke Jawa Tengah

Pemandu karaoke alias PL berusia belia atau muda

Pekerjaan pemandu lagu alias PL atau purel di karaoke, ternyata tak hanya didominasi oleh wanita berusia di atas 18 tahun. Di Boyolali, Jawa Tengah misalnya, Anda bisa menjumpai para remaja atau anak baru gede (ABG) yang bekerja di dunia malam sebagai purel, atau juga dikenal senagai lady/ladies escort atau ladies companion yang biasa disingkat LC, bekerja untuk menemani tamu-tamu karaoke. Tugas LC/PL ini menemani dan melayani para tamu berkaraoke, menyuguhkan minum, teman ngobrol. Dan yang pasti mereka juga identik sebagai wanita malam atau dunia malam.

Di Boyolali, keberadaan mereka tersebar di pusat-pusat hiburan malam seperti karaoke. Di sebuah tempat karaoke, pendar cahaya yang samar-samar terlihat dari luar ruang-ruang karaoke menandakan sebagian ruang yang lain sedang digunakan. Beberapa perempuan muncul dari balik pintu itu. Mereka berpindah ke pintu lain tempat pengunjung yang baru saja datang.

Kisah Dewi, LC Belia Berusia 17 Tahun

Salah seorang LC, Dewi, berusia 17 tahun, terlihat sangat cantik dan seksi dengan rambutnya yang panjang lurus sebahu diurai hingga menutupi leher. Untuk mempertegas bentuk wajah, poni yang mengarah ke bagian muka dijepit ke belakang. Berbedak tebal, perona pipi, lipstik dan pelentik bulu mata menambah pesona Dewi. Ia juga mengenakan baju berkerah model sabrina, dengan lengan di atas siku memperlihatkan lekuk tubuhnya, bagian bahu dan tangan.

Tak ketinggalan dipadukan dengan celana hot pants alias "celana gemes: yang tak sampai menutup paha. Kakinya yang jenjang itu semakin menarik perhatian tatkala Dewi yang berbadan kurus mengenakan sepatu hak setinggi 7 cm. Begitulah penampilannya sehari-hari saban bekerja di tempat hiburan malam.

Dewi memulai ceritanya. Dia bekerja hampir setiap hari tempat karaoke itu. Jika kebagian jam/shift siang biasanya pekerjaan selesai malam harinya. Namun jika kebagian jam sore, pekerjaan selesai dini hari. Hampir setahun perempuan muda itu menggeluti dunia hiburan malam. Awalnya berpindah-pindah dari tempat hiburan di Solo hingga kini di Boyolali sejak beberapa bulan lalu. “Aku sendiri yang ingin bekerja, tidak ada paksaan dari orang tua,” ujar gadis yang putus sekolah di kelas XI SMA itu.

Dunia malam memang digelutinya sejak putus sekolah atas kemauan sendiri. Bahkan Dewi mengaku memutuskan sendiri untuk keluar dari sekolah karena mengaku tidak betah. “Iya, saya dulu di sekolah memang terkenal nakal,” kenang Dewi.

Menurutnya, orang tua tak keberatan dia menadi seorang LC. Apalagi sejak sang ayah meninggal, pekerjaan Dewi justru bisa membantu perekonomian keluarga. Ibunya merupakan seorang pedagang. “Dari pihak manajemen karaoke juga tidak masalah," tandas Dewi yang mengaku digaji sebesar 65 ribu rupiah per jam.

Uang itu tidak termasuk uang saweran tambahan dari para pengunjung karaoke. Jika ditotal, dalam sepekan Dewi bisa mendapatkan lebih dari satu juta rupiah ini dalam sebulan Dewi bisa menghasillkan 4-5 juta rupiah, atau dua kali lipat dari UMR Boyolali sebesar 2 juta rupiah. Dan keuntungannya masih sangat banyak jika dibandingkan dengan biaya membeli pakaian mini atau peralatan dandan.

Di tempat yang sama ada pula Cindy, 17, gadis yang sudah putus sekolah sejak kelas X itu merantau dari tanah kelahirannya di Ngawi, Jawa Timur, untuk bekerja. Dia mengaku mendapatkan info lowongan dari teman-temannya sesama pekerja hiburan malam. “Iya bekerja atas kemauan sendiri,” kata Cindy menutup pembicaraan.

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam