banner

Mengapa Anda Sebaiknya Tidak Melakukan Inses

Inses, alias hubungan atau perkawinan sedarah, bukan sesuatu yang asing dilakukan meski kebanyakan orang menabukannya. Bahkan di masa, lalu inses kerap dilakukan para raja-raja untuk mempertahankan kemurnian “darah biru” mereka atau agar tahta kerajaan tidak berpindah ke pihak lain. Banyak kebudayaan yang melarang inses, karena risiko dari perkawainan sedarah yang risikonya tidak main-lain, yakni penyakit genetik langka. Anak keturunan inses berisiko menderita beragam masalah kesehatan, ini karena anak hasil inses akan memiliki kode genetik DNA yang tidak variatif karena mewarisi rantai DNA turunan dari ayah dan ibu mereka yang sangat mirip. Dan, kurangnya variasi dalam DNA dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga mereka tidak dapat melawan penyakit dengan baik.

Menurut penelitian, 40 persen anak hasil inses menderita kelainan berupa cacat fisik bawaan, atau cacat intelektual parah. Dan risiko lain, seperti:

Albinisme

Alasan anda sebaiknya tidak melakukan inses

Albinisme adalah suatu kondisi di mana tubuh kekurangan melanin, zat pewarna rambut, mata dan kulit. Seorang albino (sebutan bagi mereka yang memiliki albinisme) cenderung memiliki warna mata terang, serta kulit dan rambut sangat pucat bahkan hampir putih susu, bahkan jika mereka berasal dari etnis yang berkulit gelap. Perlu Anda ketahui, tidak semua orang albino adalah produk dari perkawinan sedarah. Tapi praktik inses antara sepupu dekat, saudara kandung, dan orang tua-anak kandung berisiko sangat tinggi untuk mewarisi masalah ini di keturunannya nanti. Alasannya, besar kemungkinan pasangan inses awa jenis gen rusak yang sama karena diturunkan dari orangtua yang sama.

Fumarase Deficiency (FD)

Alasan anda sebaiknya tidak melakukan inses

Defisiensi fumarase (FD), dikenal juga sebagai polygamist’s down, adalah gangguan yang khususnya mempengaruhi sistem saraf otak. Kondisi cacat lahir ini menyebabkan pengidapnya menderita kejang tonik-tonik, keterbelakangan mental, dan seringn memiliki kelainan fisik — mulai dari bibir sumbing, club foot alias kaki pengkor, hingga scoliosis. Keterbelakangan mental yang dialami tergolong sangat berat, di mana IQ mereka hanya mencapai 25 persen, tidak bisa duduk atau berdiri, dan kemampuan berbahasa yang sangat minim bahkan nol.

Anak hasil inses yang memiliki FD juga mungkin mengidap microcephaly, kondisi neurologis langka yang ditandai dengan ukuran kepala bayi yang sangat kecill, dibandingkan anak-anak seusianya. Selain itu, ia juga memiliki struktur otak yang abnormal, keterlambatan perkembangan parah, kelemahan otot (hipotonia), gagal tumbuh, pembengkakan hati dan limpa, kelebihan sel darah merah (polisitemia), jenis kanker tertentu, atau atau kekurangan sel darah putih (leukopenia). Individu dengan FD biasanya hanya dapat bertahan hidup beberapa bulan saja. Hanya segelintir dari ppenderita FD yang bisa bertahan hingga usia dewasa muda.

Habsburg Jaw

Alasan anda sebaiknya tidak melakukan inses

Habsburg Jaw, juga dikenal sebagai Habsburg Lip dan Austrian Lip, adalah kondisi cacat fisik bawaan dengan ciri-ciri rahang bawah menonjol keluar dan diikuti oleh penebalan bibir bawah ekstrem, dan memiliki ukuran lidah yang luar biasa besar — yang biasanya menyebabkan pengidapnya ngiler berlebihan. Kondisi ini menyebabkan cacat fungsi rahang, ketidaknyamanan dalam mengunyah, masalah pencernaan, dan kesulitan berbicara sehingga sulit untuk dimengerti. Individu yang memiliki kondisi ini dilaporkan juga mengalami keterbelakangan mental dan fungsi motorik yang hampir nol besar.

Jejak awal Habsburg Jaw diyakini berasal dari keluarga bangsawan Polandia, dan orang pertama yang dikenal mengidap kondisi ini adalah Maximillian I, kaisar Romawi Suci yang memerintah dari 1486 hingga 1519. Keluarga kerajaan zaman dulu kerap mempraktikkan perkawinan sedarah untuk melindungi keturunan darah bangsawan murni di pohon keluarganya.

Hemofilia

Alasan anda sebaiknya tidak melakukan inses

Hemofilia tidak secara spesifik merupakan hasil dari perkawinan sedarah, namun inses dipandang sebagai penyebab tingginya insiden penyakit bawaan ini di banyak keluarga kerajaan Eropa. Jika ada perempuan yang menderita penyakit ini dalam keluarga Anda, maka perkawinan sedarah dalam keluarga patut untuk dicurigai sebagai faktor risikonya. Hemofilia adalah kondisi yang disebabkan oleh kecacatan pada gen yang memungkinkan pembekuan darah.

Philadelphoi

Alasan anda sebaiknya tidak melakukan inses

Kata “Philadelphoi” yang berarti “cinta saudara” berasal dari bahasa Yunani kuno, digunakan sebagai julukan yang diberikan kepada kakak-adik Ptolemy II dan Arsinoe yang terlibat dalam hubungan inses. Meski begitu, Philadelphoi tidak tercatat sebagai kondisi medis resmi dan berbeda dari penyakit Philadelphia Chromosome (Ph). Keluarga kerajaan Mesir kuno hampir selalu diwajibkan untuk menikah dengan saudara kandung mereka, dan hal ini terjadi hampir di setiap dinasti. Tidak hanya pernikahan kakak-adik kandung, namun juga pernikahan antar sepupu. Tradisi perkawinan sedarah ini dipelihara karena mereka percaya bahwa dewa Osiri mengawini adiknya sendiri,Iris, untuk menjaga kemurnian keturunan. Tutankhamen, alias King Tut, adalah hasil dari hubungan incest antara kakak-adik. Diduga pula bahwa istrinya, Ankhesenamun, merupakan adik (entah kandung atau angkat) atau keponakannya sendiri. Akibat perkawinan sedarah ini, tingkat bayi yang lahir mati tergolong tinggi dalam keluarga kerajaan, begitu pula dengan cacat lahir dan kelainan genetik bawaan. King Tut sendiri memiliki beragam kondisi buruk yang diakibatkan dari keterbatasan variasi kode genetik gen dari hubungan inses orangtuanya.

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam