banner

Selingkuh, Genetika Atau Kebiasaan Buruk?

Contoh wanita yang suka berselingkuh

Meski perselingkuhan seringkali dianggap aib, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang ingin diselingkuhi maupun berselingkuh dari pasangannya, fataknya menurut penelitian di Inggris, setidaknya 45% pria dan 21% wanita mengaku pernah berselingkuh. Berbicara tentang selingkuh dilihat dari intensitas perbuatan, apakah itu sekadar kebiasaan atau memang perilaku yang susah untuk disembuhkan? Dan apakah ada korelasi antara perilaku selingkuh dengan genetika?

Sebagai bagian dari kampanye Hari Ibu di Inggris, Bloom & Wild bekerja sama dengan Dr. Daniel Kelberman, dari Great Ormond Street Institute, melakukan penelitian apakah sifat selingkuh dapat menurun dari orangtua ke anak atau tidak. “Tidak, perilaku selingkuh seperti itu diperoleh dengan sendirinya dan tidak ada hubungannya dengan genetika," jelas Dr. Kelberman.

Dia menambahkan, ada banyak penelitian tentang gen yang menurun pada sang anak, dan sebagian besar penelitian tersebut kontroversial. “Ada ribuan gen yang berpotensi terlibat, dan perkiraan kami tentang gen tersebut saat ini hanya sebagian yang jumlahnya sangat sedikit dari apa yang ada,” imbuhnya. Jadi dengan kata lain, jika anggota keluarga pasangan Anda suka berselingkuh, jangan khawatir sebab selingkuh itu bukan turunan genetik.

Namun pendapat yang berbeda dilontarkan oleh Brendan P. Zietsch, seorang psikolog dari Quensland, Australia, yang menyatakan bahwa gen selingkuh dapat diwariskan, dan meskipun tampaknya tidak masuk akal, sifat untuk selingkuh dapat dilacak dari gen.

Sebab, menurut peneltian, beberapa wanita juga secara biologis cenderung untuk berselingkuh karena membawa gen Vasoprresin. Vasopresin adalah hormon antidiuterik yang dihasilkan oleh otak di kelenjar hipotalamus, dan disimpan di kelenjar hipofisis. Ia menemukan bahwa 9,8 persen pria dan 6,4 persen wanita memiliki pasangan untuk berselingkuh. Studinya, yang diterbitkan dalam Evolution and Human Behavior, menemukan hubungan yang signifikan antara gen vasopresin dan perselingkuhan.

Sementara menurut *General Social Survey di University of Chicago’s Independent Research Organisasi, (NORC), tingkat perselingkuhan justru akan meningkat pada saat seseorang memasuki hubungan pernikahan, di mana tingkat perselingkuhan cukup konstan sekitar 21 persen untuk pria yang sudah menikah, dan 10 -15 persen untuk wanita yang sudah menikah.

Meski demikian Zietsch mengingatkan agar sebaiknya orang yang berselingkuh tidak menjadikan gen sebagai alasan, “Sebaiknya kita tidak menjadi budak gen, dan jangan menyalahkan gen, tapi berusalah untuk tidak berselingkuh, karena Anda tahu cara mengendalikan godaan adalah dengan menjaga emosi dan pengendalian diri yang baik,” pungkas Zietsch.

Selingkuh karena meniru perilaku orang tua

Sementara salah satu psikolog klinis dan forensik ternama di Jakarta, Kasandra Putranto, menyatakan bahwa perselingkuhan bisa terjadi karena memori yang tersimpan di dalam otaknya, yang dilihat sejak kecil dari kedua orang tua mereka. “Tapi memang tergantung dari bagaimana ia mendapat memori tersebut. Pertama, ayah atau ibu yang mempunyai gen berselingkuh maka mereka akan menurunkan hal-hal yang seperti itu by nature. Kedua, memori. Ketiga, dia memilih, misalnya seorang anak lahir dari orang tua yang berselingkuh atau dibesarkan dari pola hidup yang menganggap wajar suatu perselingkuhan,” ungkap Kasandra.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, ada orang-orang tertentu yang mempunyai bakat seperti itu. Ketika ia membina hubungan dengan lawan jenisnya, ia bisa saja berselingkuh sekali, dua, bahkan hingga tiga kali. “Keputusan dari diri kita, kita mau pilih yang mana. Ada orang yang tidak tahan (bahasa psikolog nature dan nacore), dia akan ikut terus. Setiap orang itu bisa memilih mau seperti ayah ibunya, atau dia ingin menjadi seperti orang lain,” imbuhnya.

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam